Pendidikan yang Mencerdaskan

Bulan Mei ini, kamu yang setiap harinya pake seragam putih-abu2 lagi asyik2nya menikmati kue hajatan nasional bernama UAN (Ujian Akhir Nasional). After that, berdebar-debar nunggu kelulusan, dan selanjutnya pusing.. mau sekolah dengan biaya ekstra tinggi ataukah mulai bekerja agar tetap survive.
Penyelenggaraan UAN kali ini menuai kontroversi yang dahsyat. Selain sentralistik dalam pembuatan soalnya, standar passing grade sebesar 4,01 pun juga ramai diributkan. Berbagai organisasi, sekolah, dan juga para tokoh nasional rame2 menentang kebijakan pemerintah ini.
Tingkat kelulusan untuk Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika yang soalnya dipasok dari pusat (Jakarta) dipatok minimal 4,01. Naik dari standar tahun lalu yang cuma 3,01. Sedangkan pelajaran yang lain, minimal 6. Yang tidak lulus UAN kali ini akan diberi kesempatan buat ikut ujian ulang. Tapi kalo tetep nggak lulus juga, ya sudah, wassalam. Selamat mengulang satu tahun lagi di kelas 3.
Penolakan terhadap UAN kali ini lantaran diduga kuat banyak siswa yang bakalan nggak lulus dan kudu ngulang kelas setahun lagi. Dugaan ketidaklulusan ini diperkuat dengan banyaknya uji coba UAN yang dilakukan sekolah2 di berbagai propinsi. Dan hasilnya cukup menakjubkan: angka ketidaklulusan mencapai 10 hingga 60%, bahkan lebih!
Para siswa stress. Pekan2 menjelang UAN, hidup mereka hanya diwarnai belajar, belajar dan belajar, hanya demi UAN! Agenda ber-PS ria, nogkrongin MTV, sinetron, ataupun Indonesian Dodol berkurang drastis. Apalagi yang namanya ngaji, pada serempak ngomong ama gurunya, “Libur dulu mas, mau ujian.” Teganya..😦
Ortu mereka pun ikutan stress. Pontang-panting cari duit utang buat masukin anaknya ke kursus2 intensif, demi UAN. Kalo sang buah hati lulus, siap2 cari utang lagi buat biaya ke perguruan tinggi. Kalo sang buah hati nggak lulus, tetep juga cari utang buat biaya mengulang satu tahun lagi. Hmpf.., beginilah susahnya jadi ortu.
Para guru dan institusi sekolah pun stress. Selain nama mereka yang jatuh, lantaran tingginya angka ketidaklulusan berarti menunjukkan kualitas mereka yang rendah dalam mengajar. Tingginya angka ketidaklulusan pun juga berarti menumpuknya siswa kelas 3 yang harus diajar pada tahun ajaran berikunya.
Padahal kalu kita mau jujur, sodara2. Standar nilai kelulusan yang besarnya cuma 4,01 itu bener2 termasuk kecil. Dari sisi ini, maraknya penolakan terhadap penyelenggaran UAN kali ini sebenarnya cukup bikin malu kita2 yang tinggal di negeri ini. Tetangga2 mencibir, “Rendah banget sih kualitas pendidikan bangsa ini!”
Kamu semua tentu bisa kebayang kan gimana daya saing para alumnus passing grade 3,01 dengan para tetangga yang passing grade-nya udah 6,01 ke atas. Dampak selanjutnya sudah bisa kebayang kan, bangsa mana bakal membodohi bangsa mana. Siapa menjajah siapa. Siapa jadi budak siapa.

Arti Penting Pendidikan
Dari sinilah kita bisa melihat arti penting pendidikan. Bangsa yang tidak terdidik, bangsa yang bodoh bin jahilliyah, akan selamanya terpuruk. Bangsa yang males mikir, selamanya akan dijajah dan dihisap. Bangsa yang tidak teguh dalam memegang ideologinya bakalan jadi bola permainan yang ditendang ke sana kemari.
Dari sini juga kita bisa melihat betapa mulianya Islam. Betapa Islam menginginkan para pemeluknya cerdas, berilmu tinggi, inovatif dan dinamis. Islam menginginkan para pemeluknya menjadi pemimpin dunia yang bijak dan juga pintar.
Jauh2 hari Rasulullah saw sudah memberi instruksi, “Menuntut ilmu (hukumnya) adalah wajib, bagi pria dan wanita muslim.” Bahkan dalam hadits lain dinyatakan kapan kewajiban itu harus dilaksanakan, “Dari mulai dalam buaian hingga menuju liang lahat.”
Sedangkan dalam Alquran, Allah SWT menyampaikan kabar, “Allah akan meninggikan orang2 yang beriman di antaramu dan orang2 yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.“ (TQS Al Mujaadilah [58]: 11)
Kalo kita perhatikan, kapitalisme yang sudah meruyak ke berbagai sendi kehidupan, telah jauh pula menggerogoti bidang pendidikan. Institusi pendidikan mulai dari tingkat terendah hingga perguruan tinggi meradang akibat hisapan drakula kapitalisme ini. Sekolah menjadi ajang bisnis. Ilmu pengetahuan yang seharusnya milik bersama menjadi komoditas jual-beli.
Sekolah kini tidak ubahnya seperti pasar sayur-mayur ajang tawar-menawar antara orangtua dengan para pemilik sekolah. Pemerintah secara perlahan namun pasti berlepas diri dari kewajiban mencerdaskan putra-putri bangsanya. Demi melarikan diri dari tanggung jawab ini, mantra2 sihir pun dikeluarkan, “Pendidikan bukan merupakan beban pemerintah semata, tapi semua komponen masyarakat!”
Mendiknas baru-baru ini menyatakan bahwa gaji guru di Indonesia setidaknya Rp 1,5 s/d 2 juta per bulan. Namun, realitasnya saat ini, itu belum tercapai. Gaji guru baru di Indonesia tak lebih dari Rp 350 ribu. Total anggaran pendidikan pun hanya 4,12% dari APBN. (Ki Supriyoko, Jawapos 4/5/04)
Pendidikan menjadi barang mahal. Kebodohan pun merajalela. Orang2 berduit yang bisa mengenyam pendidikan tinggi dan jumlahnya minoritas, membodohi kaum miskin yang jumlahnya mayoritas. Kesenjangan sosial semakin tinggi. Kejahatan dimana2. Tiada hari tanpa huru-hara.
Demi memperoleh pendidikan bagi putra-putrinya, orangtua terpaksa bekerja siang-malam, membanting tulang2 rapuhnya, bersimbah keringat darah dan air mata. Tidak sedikit yang terjerat lintah2 darat. Tidak sedikit pula para wanita yang menjual tubuhnya pada buaya2 darat. Sekali lagi, demi tanggung jawab pendidikan yang ditinggalkan pemerintahnya.
Yang sudah sukses menjalani semua jenjang pendidikan, tentu saja akan mempertimbangkan pengupayaan balik modal. Mereka akan menjadi drakula2 penghisap baru.
Hal ini seharusnya membuka dan membelalakkan mata kita semua, bahwa sekolah2 dan perguruan tinggi dalam sistem pendidikan kapitalis sebenarnya adalah tempat perkembangbiakkan para drakula penghisap darah rakyat.
Sebagai muslim, kita harus berjuang untuk merubah ini semua. Kita harus kembalikan insitusi pendidikan dan juga pemerintah kepada tugas mereka. Harus!

Sistem Pendidikan Islam
Dalam Islam, pendidikan bertujuan untuk membentuk kepribadian putra-putri umat hingga menjadi Islami. Selain itu, pendidikan dalam Islam juga bertujuan untuk membekali masyarakat dengan berbagai sains dan pengetahuan yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan mereka. Akidah Islam menjadi asas tercapainya kedua tujuan ini.
Metode pembelajaran dalam Islam benar2 mengupayakan pembentukan sosok yang mumpuni. Dalam Islam, kajian harus dilakukan secara mendalam sehingga esensinya bisa diketahui secara pasti dan sahih. Pengajaran dilakukan dengan cara yang menggugah akal, mengaktifkan pikiran. Tidak bersifat dogmatis.
Selain itu, pelajaran pun harus dikaji sebagai kajian praktis yang bisa menyelesaikan persoalan. Cara pembelajaran seperti ini akan mampu diterapkan dalam kancah kehidupan, sehingga kaum muslimin akan selalu dinamis. Kajian dalam Islam bukanlah kajian teoretis apalagi hipotesis. Sebab Islam tidak menginginkan pemeluknya hanya menjadi muslim teoretis, bisanya cuma omdo.
Kualitas anak didik tentu saja tidak terlepas dari kualitas para pengajar dan juga ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. Guru yang loyo hanya akan menghasilkan anak didik yang loyo. Guru yang miskin tentu akan tergoda untuk memeras anak didiknya dengan berbagai buku2 ataupun kursus2 tambahan.
Begitu juga dengan sarana penunjang. Siswa SMU yang selama bertahun-tahun belajar komputer tanpa pernah menyentuh kompuer sedikitpun bakalan kalah dengan anak kelas satu SD yang tiap hari di rumahnya pegangan komputer terus. Mereka yang belajar biologi tanpa pernah ngelihat yang namanya mikroskop apalagi praktek bedah, bakalan kalah sama tukang daging di pasar.
Dan untuk para siswa yang tinggal di daerah2 terpencil di negeri Mak Lampir ini, jangankan ngelihat komputer atawa mikroskop, mau mulai belajar aja dibimbing gurunya dulu untuk berdoa bersama, “Mudah2an sampai pelajaran berakhir, dinding dan atap sekolah ini tetap kuat dan tidak roboh.”
Tentu saja, semua itu butuh biaya besar. Kesejahteraan guru, sarana-prasarana belajar-mengajar butuh biaya yang tidak sedikit. Di sinilah dituntut peran pemerintah untuk membiayai semuanya. Karena pemerintahlah yang telah diberi kepercayaan oleh rakyat untuk mengelola sumber daya alam negara milik umat yang melimpah-ruah. Maaf, hasil alam itu bukan untuk dikorupsi menggelembungkan perut sendiri, tapi untuk dikelola demi kesejahteraan semua penghuni negeri ini!
Lihatlah Rasulullah saw. Beliau sebagai pemimpin umat, telah memberi contoh dan instruksi untuk para pemimpin kaum muslimin yang akan datang sesudahnya bagaimana cara mengelola anggaran pendidikan, demi mengeluarkan umat dari kebodohan. Beliau mengelola tawanan perang dan sumber pemasukan negara yang masih amat minim pada saat itu demi terselenggaranya pendidikan bagi umat. Gratis! Hal inipun terus diikuti oleh para Khalifah pengganti beliau.
Jadi amat aneh ketika penguasa[wati] negeri yang kaya raya ini berkomentar tentang wacana penyelenggaraan pendidikan gratis dengan mengatakan, “Pernyataan-pernyataan seperti itu tidak saja bertentangan dengan kenyataan tetapi sebenarnya juga sangat menyesatkan.” (Media Indonesia online, 5/5/04)
Sejarah sistem pendidikan Islam selama 1300 tahun telah melahirkan banyak sekali sosok2 ekstra cerdas dalam berbagai bidang. Baik dalam ilmu2 agama maupun dalam ilmu2 eksakta. Sains modern pun berhutang kepada mereka. Ini membuktikan bahwa sistem pendidikan Islam yang saling jalin-menjalin dengan keseluruhan sistem Islam lainnya benar2 adalah sebuah sistem yang mumpuni, rahmatan lil ‘aalamiin.
Mari kita campakkan sistem kapitalis ke keranjang sampah peradaban, dan kita kembalikan Islam dalam kehidupan. Mengutip lagunya Evanescence OST Dare Devil, “Bring Islam to Live”. [hnf]
sumber:
rizkisaputro.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s