mitologi di sekeliling kita

Sebuah ensiklopedia meruap di dalam memori. Pada salah satu lembarannya termuat mitologi yang mengkisahkan asal muasal eksistensi ras negroid (saudara kita yang berkulit gelap). Bahwa, mereka –yang kini tinggal di belahan bumi Afrika dan sebagian Australia itu– berasal dari keturunan pengendara kereta fajar. Semula, pengendara kereta fajar berkulit putih –seperti halnya orang-orang kaukasoid– tetapi karena dia harus menempuh rute melewati matahari, lama-kelamaan kulitnya berubah menjadi hitam. Tidak seperti temporary tatoo –yang dapat hilang dalam seminggu–, panggangan sumbu milky way membuat kulit pengendara fajar legam selamanya seperti kulit Eufrosina1).
Mitologi yang berasal dari Yunani itu, dapat dijadikan –bahan bagi kita– untuk sekedar berbagi kisah. Tapi, bagaimana jika mitologi dijadikan justifikasi atas hegemoni seseorang atau sekelompok orang?.
Di masa lalu, raja-raja Jawa mengembangkan direct selling2) mitologi demi menguatkan kedudukannya. Mitologi Nyi Roro kidul adalah mitologi yang paling laris dan ampuh untuk menguatkan pengaruh. Adalah sesuatu yang umum jika kita mengetahui bahwa masyarakat Jawa memiliki kecenderungan pola fikir magis. Kecenderungan seperti itulah yang menjawab pertanyaan, “mengapa warta mengenai Nyi Roro Kidul begitu membumi?”. Dikatakan, bahwa kerajaan Nyi Roro Kidul berada di dasar samudera Indonesia sehingga kekuatannya terbentang dari ujung Barat hingga Ujung Timur pulau Jawa. Karena masyarakat sedemikian meyakini mitologi ini maka raja Jawa mengumumkan hubungan intim –antara dirinya– dengan Nyi Roro Kidul selaku pemilik tahta lautan. Setelahnya, masyarakat menganggap bahwa sang raja tidak saja menguasai realitas dunia darat, tetapi juga di lautan. Adanya hubungan intim yang memfusikan dua kekuatan itulah yang menyebabkan prilaku raja Jawa tidak bisa diganggu gugat kebenarannya.
Mitologi lain yang ditujukan untuk menguatkan hegemoni, tidak saja dilakukan raja Jawa tetapi juga dipropagandakan pemerintahan tiga negara, menjelang awal perang dunia ke-2 (tahun 1939). Di Jerman, Adolf Hitler selaku Fuhrer mengatakan bahwa bangsanya merupakan bangsa superior yang harus meluaskan wilayah3) agar bangsa lain, dapat melihat kekuatan bangsa Aria –dan serta merta akan tunduk di hadapannya. Di Italia, Benito Musolini selaku Ill Duce mengembangkan mitologi bahwa bangsa Italia adalah bangsa terbesar pewaris renaisance dunia4). Di Jepang, pemerintahan militeristik membangun masyarakat menggunakan mitologi, bangsa keturunan Dewa Matahari.
Tak heran, adanya konsep ras terbaik mengakibatkan chauvinisme5) terstruktur dijalankan. Di bawah kepemimpinan diktator, bangsa Jerman, Italia dan Jepang mengekspansi dunia menggunakan armada militernya. Ketika dunia menyadari bahwa pembangunan sejarah manusia –dalam kerangka kedamaian–, tidak akan tercapai jika mitologi keagungan ras terus dipertahankan maka Allied Powers (Inggris, Amerika dan Soviet) tampil sebagai “penyelamat”. Tak lama berselang perang dunia ke-2 berakhir, setelah Axis Power dikalahkan pada tahun 1945.
Mitologi yang digunakan untuk memperkuat hegemoni sebuah bangsa sangat berbahaya bagi perdamaian dunia. Kaum muslimin yang tak memiliki mitologi keagungan ras –dalam kitab sucinya– kemudian bersorak-sorai kepongahan, sampai melupakan kenyataan bahwa : mitologi-mitologi lain –yang tak kalah hebat daya destruktifnya– tersebar luas menghalimuni kesadaran. Benarkah?. Kalau tidak percaya, ada baiknya saya bedah sebuah mitologi yang masyhur di bawah ini.
Once upon a time, di sebuah zaman yang nuansa spiritualnya begitu kental, seorang pemuda berjalan melipiri sungai. Dalam perjalanan, perut pemuda melilit. Ia lapar, sementara tak satupun bahan makanan berada dikantungnya. Tiba-tiba ia melihat buah delima mengambang pada bagian sungai yang berair dangkal. Karena lapar, ia memakannya. Setelah perutnya membutal, sang pemuda tersentak!. Hatinya meringis, menyadari bahwa buah delima itu pastilah ada pemiliknya. Ia merasa berdosa.
Dibisiki kesalihan teramat tinggi, ia berjalan menuju hulu. Pemuda itu bertekad untuk menemukan, siapa gerangan pemilik buah delima. Hingga suatu ketika, ia melihat ada sebuah pohon delima yang rindang. Pohon itu di canteli ratusan delima yang ranum. Ia menyaksikan buah-buah delima yang masak, berjatuhan ke dalam air. Di sampingnya terdapat sebuah rumah. Maka, ia mengambil kesimpulan bahwa penghuni rumah itu, pastilah pemiliknya.
Di pekarangan, pemuda itu bertemu seorang lelaki tua yang mengaku sebagai pemilik pohon delima. Mengetahui itu, si pemuda segera meminta maaf bla, bla, bla atas perbuatannya. Tetapi lelaki tua marah. Ia menganggap si pemuda telah berlaku salah. Maka, hukuman menggarap lahan pertanian selama beberapa tahun –ditambah menikahi anaknya yang memiliki cacat tubuh–, dijatuhkan!
Hukuman tersebut teramat berat. Apa daya, sang pemuda berniat menghapus dosa. Beberapa saat kemudian, hukuman menggarap lahan dilalui. Dan kisahpun berakhir, manakala sang pemuda menemukan bahwa cacat calon isterinya hanya ungkapan kepenyairan sang pemilik delima. Klimaksnya, kedua insan itu menikah. Dari rahim anak pemilik buah delima, lahirlah seorang imam madzhab bernama Syafi`i.
Kisah tersebut sangat menarik untuk dibedah sebab dalam setiap kesempatan –orang bersurban dan berjanggut tebal– selalu menyertakan kisah buah delima untuk menjustifikasi bahwa keturunan yang saleh pasti berasal dari leluhur yang saleh pula!. Sesungguhnya kisah tersebut sangatlah absurd karena –saya menemukan– bahwa stándar kesalehan di dalamnya adalah : kebodohan!. Bagaimana bisa?
Begini!, kisah buah delima di atas, berusaha menggambarkan bagaimana seorang pemuda saleh nan ahli agama, takut terhadap dosa sekecil apapun. Tetapi, yang menjadi bahan pertanyaan di sini adalah : apakah berdosa jika seorang manusia kelaparan, memungut delima yang hanyut di sungai? (bukankah daging babi pun boleh dimakan dalam keadaan darurat?). Bagaimana mungkin si pemuda disebut salih dan ahli agama, jika dia berdiam diri di hadapan penindasan?. Penindasan seperti apa?. Penindasan yang dilakukan pemilik delima saat menuntut hukuman : menggarap lahan pertanian selama bertahun tahun; plus menikahi gadisnya yang tuli, buta dan bisu. Mengapa ia tidak mempertanyakan “apakah hukuman itu sebanding?”. Kenapa pula, si pemuda saleh tidak mengajak pemilik delima berunding di pengadilan? Bukankah hukuman hanya dapat dilaksanakan setelah keluar vonis pengadilan?.
Jika kesalihan adalah berdiam diri di hadapan penindasan, bagaimana dengan pernyataan bahwa Islam adalah ajaran perlawanan versus penindasan!?. Jika kesalehan adalah berdiam diri di hadapan penindasan, mengapa Ali bin Abdul Muthalib –yang tak diragukan kesalehannya– mengatakan : “tak ada kaum yang bangkit ke tingkat kesucian (baca :kesalehan) kecuali bila si lemah, berdiri di hadapan yang kuat tanpa ragu5)”.
Jika bapaknya imam Syafi`i dianggap saleh karena tidak membela haknya, maka akan muncul pertanyaan lanjutan “apakah kesalihan dekat dengan kebodohan?”. Sesungguhnya kesalehan tidaklah dekat dengan kebodohan. Orang yang salih adalah orang yang berilmu. Dan semua orang tahu bahwa orang yang berilmu itu, tidak bodoh!.
Kisah buah delima yang berangsur-angsur menjadi mitologi di atas, justru terbalik dengan mitologi yang akan saya haturkan dibawah ini.
Alkisah!. Di sebuah zaman yang masih kental oleh aura spiritual, dua orang pemuda berjalan sempoyongan karena kelaparan dan tak memiliki uang. Tak tahu lagi harus bagaimana, kedua pemuda itu masuk kedalam sebuah kedai. Mereka memesan seekor ayam panggang. Setelah kenyang, merekapun berjanji akan membayar, seandainya memiliki uang (janji tidak diutarakan didepan pemilik kedai, tetapi sekedar diucapkan diantara mereka saja). Merekapun menyelinap keluar tanpa diketahui si pemilik kedai.
Beberapa waktu berselang, kedua pemuda itu kembali ke kedai. Mereka membawa uang yang cukup untuk membayar ayam panggang yang dulu mereka makan. Ketika pemilik kedai mengetahui –bahwa kedua pemuda itu pernah makan tanpa membayar–, ia lantas mengajukan tuntutan ganti rugi. Si pemilik kedai mengatakan bahwa kedua pemuda itu, harus membayar berkeping-keping dinar (uang emas). Alasannya: jika ayam itu tidak disembelih, tentu akan menghasilkan ratusan serta puluhan keturunan yang menguntungkan. Karena kere, kedua pemuda itu, tak sanggup membayarnya. Pemilik kedai pun, mengajukan mereka ke pengadilan.
Yang menarik di sini, saat pengadilan berlangsung –dengan pintarnya– kedua pemuda itu, memposisikan diri sebagai orang tertindas. Mereka menganggap si pemilik kedai tidak adil dalam menempatkan permasalahan. Untunglah, hakim memutuskan keadilan dengan pertimbangan yang logis. Dari tangan kedua pemuda itu, hakim hanya mengambil uang seharga satu ayam panggang. Uang tersebut diberikan kepada si pemilik kedai. Mengenai tuntutan sisanya, hakim meminjamkan belasan dinar kepada kedua pemuda itu. Lantas, hakim menyuruh mereka, membayar tuntutan hanya dengan memperdengarkan gemerincing dinar pada kuping si pemilik kedai. Inilah kisah mengenai keadilan yang sebenar-benarnya!.
Kisah di atas memberikan satu pengajaran yang baik dibandingkan dengan kisah buah delima. Kisah di atas mencerminkan keadilan, berbalut lelucon yang menggairahkan fikiran. Rasanya, kita harus belajar membuka mata fikiran agar tebaran kisah yang berangsur-angsur menjadi mitologi, tidak lagi menggerogoti kesadaran intelektual kita!.
Kisah mengenai bapak Imam Syafei hanya salah satu diantaranya. Belum lagi, kisah tentang seorang wali yang menyuruh sunan Kalijaga bertapa selama bertahun-tahun hingga jadi batu sebelum masuk Islam8) (padahal masuk islam itu gampang, tinggal bersyahadat dan berserah diri). Belum lagi, kisah nabi Khidir yang dimitoskan masih hidup hingga saat ini –dalam bentuk dan tubuh yang berbeda9). Belum lagi, kisah tentang puncratan darah Al Hallaj10), yang membentuk kaligrafi Allah, serta banyak lagi lainnya.
Jika kita tak mau mendekonstruksi mitologi aneh seperti di atas –bahkan malah terus mengembangkannya– maka kita akan terus menjadi manusia yang bodoh. Kita hanya akan menjadi segolongan manusia yang hanya memiliki “kesalehan” emosional, tanpa diimbangi kecerdasan serta kesalehan intelektual!. Lantas –dengan adanya fakta senegatif itu–, apakah budaya oral (berupa mitologi) mesti dihilangkan?.
Mengapa mesti?. Selama budaya skeptis11) ditumbuhkan maka mitologi akan tetap memiliki kegunaan untuk mengasah kecerdasan kita!.

1)Ibu Mimin, tokoh komik imajinasi Yolanda Vargas
2)Penjualan dalam bahasa marketing
3)Konsep ini dikenal dengan nama lebesraum.
4)Rennaisance adalah abad kebangkitan Eropa yang diawali dari Italia. Musolini memulai gerakan rasialisnya menggunakan fascio the combatimento. Sebuah pergerakan yang berarti seikat ranting (fasces) lambang kekuasaan dalam mitologi Romawi (?) yang digunakan untuk melakukan perjuangan
5)Chauvinisme : faham sentimen kesukuan dan kebangsaan.
6) Nahjl Al balaghah
7) Jangan-jangan kisah tersebut merupakan justifikasi otoritas madzhab, yang sengaja dibuat pengikutnya Imam Syafi`i?” (nah lho!?). Kisah tersebut berada jauh di belakang kita sehingga tak mungkin lagi merunut kebenarannya. Kita hanya bisa berpositif thinking, bahwa bapak imam Syafei tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Kalaupun beliau melakukannya maka sudah sewajarnya sebab beliau manusia juga.
8)Akibat cerita ini, banyak ustad bersurban –sok sufi–, menyuruh seorang preman menjaga sendal dan tongkatnya selama-bertahun-tahun, tanpa diajari ide keislaman padahal si preman berkeinginan tobat.
9)Perilaku Gus Dur yang nyeleneh, sering dibenarkan orang-orang sekelilingnya (baca : Nahdlatul Ulama) sebab Gusdur sering diibaratkan sebagai nabi Khidir (padahal nabi Khidir sudah wafat).
10)Seorang sufi, yang memiliki pemahaman panteisme, yaitu konsep ana al haq(saya adalah Tuhan), yaitu konsep penyatuan antara dia dengan Alloh. Konsep Al Hallaj hampir sama dengan konsep syekh Siti Jenar, yaitu konsep manunggaling kawula gusti (bersatu dengan Alloh).
11) Budaya curiga yang baik. Budaya yang mengajarkan agar manusia tidak begitu saja mempercayai suatu hal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s