HOW HIGH

Konon dalam perseteruan melawan Vietkong, Amerika memerlukan berton-ton suplai mariyuana atau ganja untuk menetralisir depresi tentaranya yang selalu dihadapkan kejadian tragis saat melakukan perang gerilya di hutan. Tidak seperti tentara Amerika, tidak pula seperti Bodhi –seorang tokoh dalam novel Dee Supernova yang memanfaatkan mariyuana sebagai alat untuk membiayai avontourirnya–, Jamal dan Silas, tokoh dalam film How High lebih dari itu. Mereka menggunakan ganja sebagai “ritual” yang menjadi triger (pemicu) kemunculan ilham-ilham seputar jawaban pertanyaan final exam (ujian akhir) di senior high school-nya.
Bermula dari kesukaan menghisap ganja, Jamal dan Silas bertemu dalam sebuah mobil yang kacanya ditutup rapat. Mereka menghisap ganja hingga mobil yang mereka tumpangi terlihat seperti terbakar, lalu muncullah hantu Ivory.
Ivory adalah juga orang kulit hitam seperti halnya Jamal dan Silas. Ia teman baik Silas, sama-sama pecandu ganja dan pecandu wanita. Dikisahkan bagaimana Ivory mati sesaat setelah bertemu dengan teman baru yang menolak kencan dengan alasan rambut Ivory jelek dan di dahinya terdapat tanda –yang meski dikatakan Ivory sebagai tanda Budha tetapi teman kencannya mengatakan tanda itu sebagai tanda Budha buang air–. Maka, Ivory-pun kecewa berat. Untuk menghilangkan kekecewaan, dia menghisap ganja yang diberi Silas padanya.
Ivory tertidur sambil menonton televisi, sementara ganja yang ada di tangannya masih menyala. Kecerobohan membawa petaka. Lintingan ganja jatuh dari tangan, membakar baju dan seluruh tubuhnya. Ivory terbangun dalam kobaran api. Ia kalut, lalu terjun dari apartemennya hingga menghantam aspal. Beberapa menit kemudian Ivory siuman. Betapa terkejutnya ketika menyadari bahwa peristiwa yang dialaminya tidak membuat Ivory mati. Ia berteriak “saya masih hidup!”. Sialnya, sebuah mobil datang menghantam dan menggilas Ivory sampai mati.
Untuk mengenang Ivory –dalam kesedihannya–, Silas mengkremasi tubuh Ivory hingga menjadi abu. Kemudian abu itu ia campurkan dengan tanah –medium tempat tanaman ganja kesayangannya tumbuh. Dua bulan kemudian tanaman ganja Ivory menjadi rindang.
Setelah bertemu dengan Jamal di dalam mobil, Silas menyadari bahwa hantu Ivory akan muncul seandainya mereka menghisap ganja. Kemunculan Ivory membawa keberuntungan. Dalam mabuknya mereka menjadi pintar, mengetahui jawaban ujian tanpa perlu berfikir keras seperti halnya orang lain.
Pengumuman penerimaan tiba, Jamal dan Silas menduduki peringkat pertama dan kedua di seluruh Amerika. Maka prestasi tersebut menjadikan mereka sebagai orang yang paling diharapkan di seluruh universitas di Amerika. Jamal dan Silas bebas memilih masuk universitas manapun. Bahkan, satu persatu public relation setiap universitas, datang ke rumah menawarkan institusinya disertai dengan embel-embel yang sekiranya akan membuat mereka memilih universitas yang ditawarkan. Maka, Jamal dan Silas pun menjatuhkan pilihannya pada universitas Harvard.
Awal kemunculan mereka –di salah satu perguruan tinggi paling terkenal di Amerika– menimbulkan bencana bukan saja bagi teman-teman sekamarnya, tetapi juga bagi universitas. Awal masuk ke ruang perkuliahan, mereka sudah membuat seorang mahasiswa dikeluarkan akibat keisengan Jamal dan Silas memaki-maki dosen –yang disangkanya di ucapkan oleh mahasiswa yang dikeluarkan tersebut.
Onar mereka buat mulai dari menghisap ganja hingga asrama berasap, meracuni temannya menonton film porno, menghancurkan patung, mencampurkan ganja ke dalam brownies sampai mengundang pelacur di pesta penerimaan siswa baru. Meski bandel tak tertolong, Jamal dan Silas selalu lulus ujian dengan nilai terbaik: A. Dalam hal ini Ivory-lah yang memegang peranan. Dia selalu muncul saat Jamal dan Silas mengikuti ujian (tentunya setelah mereka mabuk ganja).
Satu saat –ketika pesta dilangsungkan di asrama– seorang mahasiswa yang ditugaskan mengawasi gerak-gerik kedua orang mahasiswa bandel itu datang sembunyi-sembunyi ke pesta. Ia masuk ke dalam kamar Jamal dan Silas, lantas menemukan pot ganja Ivory yang rindang. Ia terkejut. Sebelum melaporkannya ke pihak universitas, “ruh” Ivory yang berubah menjadi asap masuk ke dalam hidungnya kemudian merasuki agar mahasiswa –yang pernah dijahili Silas– membawa tanaman ganja Ivory. Ia membawa tanaman ganja ke dalam kamarnya, mencobanya hingga tanaman ganja Ivory menjadi gundul.
Hilangnya tanaman ganja Ivory menjadi bencana bagi Jamal dan Silas. Mereka putus asa. Tetapi meski kehilangan Ivory, semangat mereka segera datang kembali. Jamal dan Silas menggiatkan belajar sambil menghisap ganja (bukan ganja Ivory) dan nilai ujian yang mereka dapatkan: F. Jamal dan Silas ketakutan, nilai F bukan saja akan menghancurkan –tetapi menjadi penentuan apakah mereka akan dikeluarkan atau tidak– seandainya dalam ujian ke depan Jamal dan Silas mendapatkan nilai yang buruk lagi. Puncak kekhawatiran dan kekonyolan itu terlihat ketika Jamal dan Silas menggali kuburan presiden Amerika Benjamín Franklin demi mendapatkan efek yang sama dengan ganja Ivory –(efek yang membuat mereka berada di Harvard). Jasad presiden Amerika itu mereka angkut ke asrama, tangannya mereka potong dan dimasukan ke dalam mixer (sebelum dimasukan kedalam racikan ganja). Tentu saja apa yang mereka lakukan tak berhasil. Tetapi akhirnya, mereka dapat mempertahankan kuliah di Harvard setelah sungguh-sungguh belajar dan memperbaiki nilai botani mereka.
Akhir film How High menjadi tak bermakna, sebab sin ending story-nya menceritakan, bagaimana mereka berhasil membuat racikan seks untuk profesor botani dan bong raksasa (alat menghisap ganja) hingga membuat seluruh orang di perayaan kedatangan wakil presiden, mabuk!. Namun, disamping buruknya dampak mabuk-mabukan, serta seks bebas bagi manusia—, ada makna yang dapat kita ambil dan pelajari dari film ini bahwa : tidak ada jalan pintas untuk meraih kesuksesan.
Saya teringat akan beberapa hal ketika anak-anak muda seusia kita di masanya orangtua kita dulu membakar buku ujian, menjadikannya sebagai abu kemudian mencampurkannya ke dalam air kopi untuk diminum dengan harapan mereka akan mendapat nilai ujian yang baik, atau bahkan datang ke paranormal yang mampu mengisi tinta pulpen dengan jin yang tak akan salah memilih pilihan ganda, hingga membuat kertas contekan, memasukannya ke dalam kerah, atau menyempilkannya ke dalam lipatan rok serta kaus kaki.
Sebenarnya, di dunia ini tidak ada jalan pintas. Segala sesutu harus melewati tahapan, ada kaídah kausalitas atau kaídah sebab akibat yang harus dijalani dan dipelajari demi menggapai kesuksesan. Jika kita ingin lulus ujian, jawabannya simple saja, belajarlah dengan tekun!. Kita pasti bisa!, sebab tak ada manusia yang bodoh di dunia ini. Manusia hanya malas menggali potensi dirinya (tentu kasusnya berbeda dengan orang lemah mental atau orang yang gila sejak lahir).
Setiap manusia diberikan potensi untuk menjadi pintar. Sebuah buku menginformasikan, bahwa potensi akal manusia sedemikian dahsyatnya hingga dikatakan, Einstein yang demikian cerdas baru memanfaatkan 15% kapastitas otaknya, dan pada umumnya manusia baru menggunakan hanya 5% otaknya saja. Sayang sekali, jika kita tak mampu memaksimalkan potensi akal kita, apalagi jika malah mempergunakan yang 5% itu untuk hal-hal yang buruk. Bukannya memanfaatkan masa muda untuk berkarya, malah minum-minuman keras, mencandu heroin, putau dan menghisap ganja. Ah!, anak muda tidak seperti itu. Bangkit! Ayo bangkit!! manusia membutuhkan seorang muslim seperti kita untuk dijadikan sebagai pemimpin dunia!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s