Cara Menghadirkan Bayangan Akhirat di Dalam Hati

Setelah ini dipahami, kami ingin menerangkan definisi berpikir. Berpikir adalah menghadirkan dua pengetahuan untuk mendapatkan pengetahuan ketiga. Contohnya: jika seseorang menghadirkan kehidupan, kenikmatan, cacat dan kefanaan dunia di hatinya, kemudian menghadirkan kenikmatan dan keabadian akhirat serta kelebihannya atas kenikmatan dunia, dan dia yakin dengan pasti akan kebenaran kedua pengetahuan ini, maka hal itu akan menghasilkan pengetahuan yang ketiga. Yaitu bahwa akhirat, dengan kenikmatannya yang lebih dan kekal, lebih utama dan patut untuk diutamakan oleh setiap orang yang berakal daripada dunia fana.
Kemudian dalam hal pengetahuan tentang akhirat, seseorang berada dalam dua keadaan.
Pertama: dia mendengar pengetahuan itu dari orang lain. Hatinya tidak benar-benar yakin terhadap akhirat, dan juga tidak sampai menyentuh hakikatnya. Ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Ada tarik-menarik antara dua kutub pada dirinya. Yaitu, daya tarik dunia dan pengutamaannya yang merupakan daya tank terkuat pada diri karena merupakan hal yang disaksikan dan dirasakan oleh indera; dan daya tarik akhirat, yang merupakan daya tarik yang lemah karena hanya dari pendengaran saja dan hatinya belum benar-benar yakin. Apabila ia meninggalkan dunia untuk akhirat, jiwanya berbisik kalau dirinya telah meninggalkan sesuatu yang malum (pasti) menuju pada suatu yang mazhnun (khayalan). Jiwa seseorang itu memanggilnya, “Aku tidak boleh melepaskan sebiji jagung yang ada di depan mata hanya karena untuk mendapatkan sebuah berlian yang baru sekedar janji.”
Cacat inilah yang menghalangi jiwa-jiwa manusia dalam mempersiapkan diri untuk akhirat, beramal dan berusaha untuk menghadapinya. Ini karena lemahnya ilmu dan lemahnya keyakinan akan akhirat itu. Sebab, kalau ada keyakinan paten dan tidak ada lagi keraguan yang meliputi hati, tentu seseorang tidak akan meremehkannya dan pasti akan berharap penuh terhadapnya.
Oleh karena itu, kalau seseorang disuguhi makanan yang begitu lezat lagi nikmat dan dia sedang amat butuh kepadanya lalu diberitahu kalau makanan itu beracun, tentu ia tidak akan menyentuhnya—karena dia tahu bahaya akibat memakan makanan itu melampaui kelezatan menyantapnya. Mengapa keimanan seseorang terhadap akhirat tidak tertanam seperti itu dalam hatinya? Hal ini tentu disebabkan lemahnya pohon ilmu dan iman terhadap akhirat dalam hati.
Begitu pula bila ia berjalan di suatu jalan lalu diberitahu bahwa di ujung jalan ada perampok yang membunuh orang yang lewat dan merampas barang-barangnya. Tentu orang itu tidak akan melewati jalan tersebut, kecuali ada dua kemungkinan: dia tidak percaya kepada yang memberitahunya, atau dia percaya diri akan kesanggupannya mengalahkan dan menundukkan mereka. Kalau saja ia mempercayai berita itu sepenuhnya dan yakin akan ketidaksanggupannya melawan para perampok, pasti dia tidak menempuh jalan itu.
Sekiranya kedua pengetahuan ini telah ada pada diri seseorang perihal pengutamaan terhadap urusan dunia, tentu dia tidak akan melakukannya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kalau seseorang mengutamakan urusan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk akhirat, berarti imannya tidak sempurna.
Keadaan kedua: dia benar-benar yakin dan pasti bahwa ada ad-daar (tempat kembali) untuknya selain dunia ini, dan bahwa dunia hanyalah jalan menuju tempat tersebut atau sekedar tempat persinggahan manusia yang akan menuju ke sana. Di samping itu, dia tahu bahwa daar tersebut kekal, nikmat dan azabnya juga tidak lenyap. Nikmat dan azab dunia jika dibanding dengan nikmat dan azab akhirat hanyalah seperti mencelupkan jari ke laut lalu jari itu diangkat lagi. Air yang membasahi jari itulah dunia. Dan, air laut itulah akhirat. Pengetahuan seperti ini mendorong seseorang untuk mengutamakan, mencari, dan mempersiapkan diri benar-benar dalam menghadapi akhirat. Selain itu juga berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia berusaha dengan penuh tafakkur, tadzakkur, nazhar, ta’ammul, i’tibar, tadabbur, dan istibshar. Semua kata ini mirip artinya; sama dalam satu sisi tapi berbeda dalam sisi yang lain.
Disebut tafakkur karena dalam semua proses itu menggunakan dan meng-hadirkan pikiran. Dan, disebut tadzakkur karena menghadirkan ilmu yang harus diingat-ingat setelah terlupa dan hilang. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 201)
Disebut nadhar karena melihat dengan mata hati pada hal yang dipikirkan. Adapun disebut ta’ammul karena mengulang-ulang pikiran sampai terlihat jelas dan terbuka bagi hatinya. Sementara itu, disebut i’tibar (wazan ifti’al dari kata ‘ubur yang berarti menyeberangi) karena dia menyeberang dari suatu hal ke hal yang lain; dia menyeberang dari hal yang dipikirkannya menuju ke pengetahuan ketiga. Yang disebut dengan pengetahuan ketiga ini adalah tujuan dalam i’tibar itu. Oleh karenanya, hal itu pun disebut sebagai ‘ibrah. Kata Ibrah mengikuti wazan isim haal seperti kata jalsah, rikbah dan qitlah. Ini untuk menunjukkan bahwa ilmu dan pengetahuan telah menjadi haal (karakter) bagi pemiliknya. Dengan begitu, seseorang bisa melintas atau menyeberang menuju sesuatu yang diinginkannya. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)/’ (an-Naazi’aat: 26)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” (an-Nuur: 44)
Disebut tadabbur karena merupakan perenungan tentang akibat dan akhir suatu perkara. Allah SWT berfirman,
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami)?” (al-Mukminuun: 68)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (an-Nisaav: 82)
Jadi, arti mentadaburi suatu kalimat adalah memikirkannya dari bagian awal sampai akhir, kemudian mengulang-ulangi perenungannya. Oleh karena itu, bentuknya mengikuti wazan tafaa’ul, seperti tajarru’, tafahhum, dan tabayyun.
Dan disebut istibshar, wazan istif’al dari kata tabasshur yang berarti jelas dan tersingkapnya sesuatu hal di depan bashirah (mata hati).
Baik tadzakknr maupun tafakkur punya faedah masing-masing. Tadzakkur berarti hati mengulang-ulang apa yang diketahuinya agar tertanam dengan kuat di dalamnya, sehingga tidak terhapus dan pudar dari dalam hati secara keseluruhan. Adapun tafakur berarti memperbanyak ilmu dan mencari apa yang belum ada di hati. Jadi tafaknr itu gunanya mencari ilmu dan tadzakkur berguna untuk menjaganya. Oleh karena itu, Hasan al-Bashri berkata, “Para ulama senantiasa memanfaatkan tafakkur dan tadzakkur. Mereka berbicara dengan hati sampai akhirnya hati itu melahirkan hikmah.” Jadi, tafakkur dan tadzakkur adalah benih ilmu. Saling bertanya adalah siramannya, dan mudzakarah adalah pembuahannya. Seorang salaf pernah menyatakan, “Pertemuan antar para ulama adalah pembuahan otak mereka.” Karena, dalam mudzakarah terdapat pembuahan akal.
Kebaikan dan kebahagiaan itu tersimpan di dalam sebuah gudang, kuncinya adalah tafakkur. Jadi harus ada tafakkur dan ilmu. Apabila dari proses itu kemudian hati memperoleh ilmu, maka setiap orang yang melakukan suatu hal yang baik atau buruk pasti ada satu kondisi di hatinya yang terwarnai oleh ilmunya. Kondisi itu melahirkan iradah (kehendak), dan iradah melahirkan amal. Sampai di sini ada lima hal: (1) berpikir, (2) buahnya, yaitu ilmu, (3) buah dari keduanya, yaitu keadaan yang terwujud bagi hati, (4) buah yang ditimbulkannya, yaitu iradah, dan (5) buah iradah, yaitu amal. Dengan demikian, ilmu adalah titik permulaan dan kunci segala kebaikan.
Hal ini tentu membuktikan keutamaan dan kemuliaan tafakkur. Hal itu juga membuktikan bahwa tafakkur tergolong amal hati yang paling utama dan paling bermanfaat bagi hati itu sendiri; sampai dikatakan, “Tafakkur sesaat lebih baik dari ibadah setahun.” Hanya berpikir yang dapat mengubah seseorang dari matinya kecerdasan kepada hidupnya kesadaran, dari kebencian kepada cinta, dari rakus dan tamak menjadi zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia ke cakrawala akhirat, dari sempitnya kebodohan ke lapangnya ilmu, dari penyakit syahwat dan cinta kehidupan fana ini ke sehatnya taobat kepada Allah dan mengesampingkan dunia, dari musibah buta, tuli, dan bisu ke nikmat melihat, mendengar, dan paham tentang Allah. Juga dari penyakit-penyakit syubhat (keraguan) ke sejuknya keyakinan dan tenteramnya dada.
Kesimpulannya: pangkal setiap ibadah dan taat adalah pikiran. Begitu juga, pangkal setiap maksiat berasal dari pikiran juga. Itu karena, ketika setan mendapati sebuah hati kosong dan terbengkalai maka ia menanamkan benih pikiran-pikiran jahat. Lahirlah kemudian kehendak dan keinginan, lalu dari sana timbullah perbuatan. Tapi kalau setan mendapati hati terisi oleh benih-benih pikiran yang bermanfaat/ positif, yang berisi tentang tujuan penciptaan atau tentang tugas yang dibebankan kepadanya atau tentang kenikmatan dan siksa yang disediakan buatnya, tentu setan tidak akan dapat menemukan tempat untuk menanam benih keburukan. Ini seperti dikatakan bait syair berikut.
“Cintanya mendatangiku sebelum aku tahu apa itu cinta
Maka ia menemukan hati yang kosong sehingga ia pun singgah di sana.”
Jika ada yang menyatakan kalau anda telah menyebutkan definisi pikiran, manfaatnya, dan betapa besar pengaruhnya dalam kebaikan dan keburukan, sekarang apa yang menjadi bahan pikiran itu? Membahas masalah seperti ini tidak akan lengkap tanpa menyebutkan hal yang menjadi bahan pikiran itu sendiri. Sebab, berpikir tanpa ada sesuatu yang dipikirkan adalah mustahil.
Jawabnya, bahan pikiran dan hal-hal yang terkait dengannya ada empat. Pertama: tujuan yang disukai dan ingin diwujudkan. Kedua: jalan yang mengantarkan kepada tujuan tersebut. Ketiga: mudarat yang dibenci dan tidak diharapkan terjadi. Keempat: jalan yang menyebabkan timbulnya mudarat tersebut.
Pemikiran manusia berakal tidak keluar dari “empat hal ini. Setiap pikiran yang melampaui keempat hal tersebut adalah pikiran yang rendah, khayal, dan angan-angan yang sesat; seperti orang miskin yang berkhayal dia adalah orang terkaya lalu mengambil dan memberi sebebasnya. Atau seperti orang lemah yang berkhayal bahwa dia adalah raja yang paling berkuasa, membayangkan dia dapat berlaku dan bertindak bebas di negeri dan terhadap rakyat; dan sebagainya yang tergolong pikiran-pikiran hampa yang mirip igauan orang mabuk atau miring otaknya. Pikiran-pikiran rendah itu adalah santapan orang-orang yang berjiwa amat hina. Jiwa-jiwa itu menerima khayalan dan rela dengan sesuatu yang mustahil. Kemudian, pikiran-pikiran ini makin kuat dari bertambah banyak sampai mengakibatkan timbulnya efek yang tidak baik, was-was dalam hati, dan penyakit-penyakit yang sulit dihilangkan.
Selain pikiran yang bermanfaat itu adalah pikiran yang keluar dari empat bagian yang telah kami sebutkan. Pikiran seperti itu juga punya dua tempat dan tingkatan, yaitu dunia dan akhirat. Budak-budak dunia yang tidak peduli dengan akhirat mengisi pikiran-pikiran mereka dengan empat hal itu di dunia ini, sehingga membuahkan pikiran-pikiran duniawi saja. Apabila dunia habis masanya dan hari akhirat tiba, maka akan nyatalah siapa yang beruntung dan siapa yang merugi. Sedangkan orang-orang yang mementingkan akhirat, mereka meramaikan bangunan pikirnya dengan empat bagian itu tentang akhirat.
Dengan bantuan-Nya, kami akan membahasnya secara detail sebagai berikut.
Setiap orang yang menginginkan sesuatu pasti karena ia menyukainya, senang berdekatan dengannya, dan berusaha mewujudkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Ini menyebabkan pikirannya terikat dengan keindahan, kesempurnaan, dan melebih-lebihkan sesuatu yang dicintainya. Perasaan seperti ini juga membuat pikiran seseorang terikat oleh keuntungan dan kegembiraan yang didapat dari yang dicintainya itu. Jadi, pikirannya tentang sang kekasih berkisar antara keindahan dan kebagusan. Makin kuat cintanya, makin kuat pula pikirannya—sampai memenuhi seluruh bagian hati, sehingga tidak ada lagi ruang yang tersisa untuk yang lain.
Di tengah manusia, ia selalu bersama kekasihnya dengan seluruh jiwa raganya. Kalau kekasih ini adalah kekasih yang haq, yang cinta kasih sejati hanya pantas dicurahkan kepadanya, maka dia adalah orang yang paling berbahagia. Dia telah meletakkan cinta pada tempatnya. Tapi jika cinta itu untuk hal-hal lain yang batil dan fana, yang setelah sang terkasih lenyap membuat hati merana, berarti ia tidak meletakkan cinta pada tempatnya, dia amat menzalimi dirinya. Dengan begitu, dirinya harus siap menerima kesengsaraan dan kecelakaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s