Masalahnya adalah Aqidah terhadap Allah

Sewaktu berbincang-bincang, temannya berkata kepadanya:
“Saudaraku, izinkanlah saya mengatakan kepadamu: Saya tidak mengerti
kamu lagi. Kamu ingin berdiri menghadang banjir. Kamu menjerumuskan
diri ke dalam kebinasaan tanpa ada gunanya. Kamu bertindak seakan-akan
kamu ingin melepaskan diri dari kehidupan. Jelaskan kepada saya: Untuk
kepentingan siapa kamu menjadikan dirimu begini? Kesadaran rakyat belum
sampai ke tingkat yang dapat mengikutimu dalam tujuan-tujuanmu, atau
mengetahui apa yang kamu kehendaki. Kamu menentang arus yang amat
kuat, kamu menghadapi kekuatan-kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang
dapat membeli negara, bangsa dan ummat. Kekuatan yang mempunyai agenagennya
yang terlatih di setiap tempat. Ia mempunyai alat-alat yang sudah
ahli dalam pekerjaannya. Kékuatan ini dapat mengubah kamu menjadi orang
yang tertuduh di mata teman-teman setanah airmu. Ia dapat melucuti engkau
dan nama baikmu, sehingga kamu tampak sebagai pengkhianat di mata
orang lain. Kamu akan mendapati adanya seribu saksi, seribu alat-alat
propaganda yang menyorakkannya siang dan malam. Kamu tidak kaya,
kamu tidak muda, kami, kamu seorang laki-laki yang telah mendekati umur
tua. Tidak ada parti atau yayasan yang akan membantu kewanganmu, jika
mata pencarianmu telah terputus. Atau membelanjai keluargamu kalau kamu
tidak dapat membantu mereka lagi kerana sesuatu sebab. Saudaraku! Dalam
màsa-masa terakhir ini, saya tidak mengerti kamu lagi”.
Temannya mengucapkan kata-kata itu dan mengemukakan
peringatan-peringatan ini dengan penuh semangat, panas, marah dan
kasihan. Ia tidak mendapat kesempatan untuk berbicara, sampai temannya
itu berhenti, beristirahat dan menunggu jawaban.
Teman kita itu tersenyum dan berkata:
“Saudaraku, saya mengerti semua ketakutan ini. Saya melihat semua
bahaya ini. Saya tahu bahawa engkau benar dalam semua yang kamu
katakan. Saya menghargai perhatianmu atas diri temanmu, sahabatmu
semenjak kecil. Tetapi saudaraku, kamu telah mengemukakan segala
sesuatunya, tetapi kamu lupa satu sebab yang mungkin dapat menjelaskan
semua yang kamu lihat itu. Kamu menyebut-nyebut rakyat, tanah air,
kesihatan, wang, kamu sebut kekuatan yang luar biasa besarnya yang
mampu membeli bangsa, negara dan ummat, atau menyesatkannya, sehingga
tidak dapat lagi diketahui mana orang yang mulia dan mana yang
pengkhianat. Sernuanya ini benar. Tetapi kamu lupa kepada Allah”.
Lalu temannya menjawab: “Tidak, temanku! Saya tidak pernah lupa
kepada Allah. Tetapi saya tahu bahawa Muhammad anak Abdullah, ketika
menghadapi persoalan seperti yang kamu hadapi sekarang ini, beliau adalah
Rasul yang diutus Allah, beliau menerima wahyu, mendapat bantuan dan
lima ribu malaikat yang diberi tugas. Kamu apa sahaja yang kamu miliki?”
Teman kita itu kembali tersenyum dengan perasaaan lega. Ia berkata:
“Sekarang saudaraku, kita hampir sampai kepada suatu titik temu. Saya
bukan Nabi dan bukan pula Rasul. Saya tidak menerima wahyu dan tidak
pula menerima bantuan malaikat. Tetapi saya percaya kepada Allah. Setiap
orang yang percaya kepada Allah di atas bumi ini, di masa manapun dan di
tempat manapun, dapat menunggu daripada Allah, selain dari wahyu dan
malaikat, segala yang telah diberikan Allah kepada RasulNya dalam hal ini,
selama ia mengikuti langkahnya. Orang-orang beriman di manapun mereka
berada, adalah para pemilik warisan yang luar biasa itu, selama mereka
selalu mengikuti petunjuknya. Warisan yang luár biasa hebatnya ini,
saudaraku, adalah campuran dan sakit dan senang, campuran dan
perjuangan dan kemenangan, campuran dan kesengsaraan dan kegembiraan.
Tetapi akibat terakhirnya telah jelas:
“Kamu akan diuji dalarn hal harta benda dan diri kamu.
Kamu akan mendengar dari orang-orang yang telah mendapat Kitab sebelum
kamu dan dari orang orang musyrik banyak kesakitan dan kerugian. Bila
kamu sabar dan tabah serta bertaqwa maka hal itu adalah termasuk peristiwa
yang besar.
Janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu merasa sedih.
Kamulah yang lebih tinggi, jika kamu beriman. Jika kamu menderita luka
maka golongan lain juga telah menderita luka seperti itu”
Masa-masa kebesaran itu kami pergilirkan di antara manusia.
Agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan mengambil saksi-saksi
dari kalangan kamu, Allah tidak suka kepada orang-orang yang aniaya. Dan
agar Allah membersihkan orang-ordng yang beriman dan menghancurkan
orang-orang yang kafir.
Apakah kamu mengira bahawa kamu dapat masuk ke dalam surga sampai
Tuhan mengetahui siapa di antara kamu yang benar-benar berjuang dan
mengetahui orang-orang yang sabar. Sesungguhnya kamu telah
mendambakan kematian sebelum kamu menjumpainya. Sekarang telah kamu
lihat dengan mata kepala kamu sendiri.“
Temannya itu tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk
membacakan sebuah ayat Allah yang lain dari Kitab Suci yang abadi itu.
Ia mengisyaratkan dengan tangannya untuk diam, lalu ia berkata:
“Saya mengerti. Saya mengerti. Jadi kamu mahu mati”
Teman kita menjawab:
“Tidak hai temanku! Karnu belum memahami saya. Saya tidak mahu
mati. Saya dapat memastikan hal itu untukmu. Saya mahu hidup. Saya ingin
hidup dan berumur panjang. Saya belum merasa puas dengan kehidupan ini.
Kewajipan-kewajipan yang harus saya laksanakan baru sedikit yang saya
lakukan. Saya ingin untuk menyelesaikan seluruh pertanggungjawapan itu.
Dan ada suatu persoalan lain. Untuk beberapa waktu lamanya dalam
kehidupan saya, saya telah menjauh dari Allah. Saya berharap untuk hidup
sehingga dapat saya gunakan umur saya untuk mendekatkan diri kepadanya,
sehingga kedua daun timbangan itu menjadi agak sama berat. Dan akhirnya
saya tidak pernah lupa bahawa saya mempuiyai beban-beban saya”.
Cepat-cepat temannya sekali lagi memotong pembicaraannya dan
menyuruhnya diam:
“Saya tidak peduli dirimu pribadi. Kamu boleh melakukan apa sahaja.
Tetapi saya memang merasa penting beban ini. Kamu adalah seseorang yang
tubuhnya tidak sanggup menahan penderitaan ini. Yang paling dekat
kepadamu adalah kematian. Apakah harta-benda yang kamu tinggalkan
untuk keluargamu. Yang saya tahu apa yang kamu tinggalkan adalah
setumpuk nol-nol sahaja”.
Temannya menjawab dengan tenang sahaja:
“Apa yang akan dilakukan keluargaku, jika saya meninggal di atas
kasur begitu sahaja sebagaimana keldai mati? Kehidupan ini seluruhnya jiwa.
Nafas masuk dan tidak keluar. Nafas keluar dan tidak masuk lagi. Apakah
mereka akan mengambil lubang di tanah atau tangga ke langit?
ُقل لَّوْ ُ كنتُمْ فِي بُيُوتِ ُ كمْ َلبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عََليْهِمُ اْلَقتْ ُ ل إَِلى مَضَاجِعِهِمْ
“Katakan: sekalipun kamu di runahmu sesungguhnya akan nyata orang-orang yang
telah ditetapkan atas mereka bahawa mereka akan terbunuh itu kepada tempat
pembaringan mereka”
(Ali-Imran: 154)
Saya ini, hal ternanku, sebagaimana telah saya katakan, saya tidak
ingin mati. Tetapi hidup dan mati itu adalah rahasia Allah. Kedua hal itu
tidak boleh menjadi perhitungan bagi orang yang bermaksud untuk
melaksanakan tugas, atau untuk mengubah suatu hal yang tidak benar, atau
pergi dan kembali walaupun untuk kepentingan perniagaan dan mencari
kehidupan.
“Tidak ada jiwa yang tahu apa yang akan diperolehnya besok, dan
tidak ada jiwa yang tahu di bumi mana ia akan meninggal”
Tiba-tiba temannya berkata:
“Dengarlah saya ceritakan kepadamu sebuah cerita yang benar-benar
terjadi, yang dapat membantu apa yang kamu katakan. Tahun 1930 terjadi
krisis di kalangan guru-guru, sebuah krisis pantulan. Guru-guru yang telah
sekolah-sekolah swasta, selain dan sedikit guru. Sekolah-sekolah swasta
mempergunakan kesempatan ini untuk mempraktikkan hukum permintaan
dan penawaran. Mereka memberikan syarat syarat yang amat tidak adil, di
antaranya gaji yang amat kecil, pada bulan musim panas gaji tidak
dibayarkan. Kami mempunyai seorang rakan yang mempunyai banyak
tanggungan keluarga. Ia sedikitpun tidak dapat menyimpan dan gajinya
yang kecil itu. Pada suatu kali ia bercerita tentang sebab-sebab
penderitaannya kepada seorang dusun yang sederhana. Tiba-tiba orang
dusun Yang sederhana itu bertanya membantah dan dengan cara yang
sederhana pula: Saudaraku, bagaimana Tuhan? Apakah Tuhan telah mati?
Setelah itu kedua orang itu terdiam, lama sekali. Diam atau suatu
pengertian yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata”.
Saya ikut menyaksikan pembicaraan ini. Saya mendengarkan
keseluruhannya, bukan kerana ingin memata-matai dan bukan hanya kerana
ingin tahu saja. Pembicaraan ini terdengar oleh semua orang berada di dekat
itu dalam kelab yang berisi banyak orang. Saya juga faham akan diam yang
meliputi kedua teman itu:
Benar, apakah Tuhan telah mati? Maha Suci Ia dan Maha Tinggi. Maha
Hidup dan Maha Kuat yang tidak ada mati-mati.
Setelah itu berbagai pemikiran mulai timbul pada saya: Dari manakah
kiranya para pejuang itu memperoleh kekuatan untuk perjuangan? Dan
penghargaan tanah air dan penghormatan rakyat? Hal ini tidak pasti. Bangsa
kadang-kadang mencapai suatu tingkát kesedaran sehingga ia tidak mungkin
memberikan penghargaan. Bahkan kadang-kadang ia menghancurkan orângorang
yang menginginkan kebaikan baginya, dan memberikãn tepuk tangan
kepada tukang bangkitkan semangat. Dan kepercayaan kepada diri sendiri?
Juga tidak pasti. Diri kadang-kadang tidak dapat bertahan kerana godaan dan
ancaman. Walaupun orang dapat menentang godaan dan ancaman, mungkin
ia tidak dapat bertahan di depan samaran tanah air dan rakyat, dan di depan
tuduhan palsu yang mungkin diderita öleh orang yang paling mulia
sekalipun.
Harus ada suatu sandaran tetap yang tidak akan goyang. Harus
bersandar kepada suatu kekuatan yang lebih besar dan kekuatan dunia, agar
para pejuang dapat bertahan di depan ancaman. Pasti ada suatu ganjaran
yang lebih besar dan semua yang dapat diberikan oleh dunia, sehingga para
pejuang dapat bertahan di depan godaan. Harus ada suatu hubungan yang
lebih kuat dan hubungan yang terdapat di seluruh bumi, sehingga para
pejuang itu dapat bertahan diri di depan samaran rakyat dan tanah air.
Para pejuang yang mencari sandaran di bumi ini tidak akan
menjumpainya. Para pejuang yang mencari kekuatan di bumi ini, tidak akan
menjumpai apa-apa
Hanya satu sandaran yang tidak akan goyang. Hanya satu sandaran
yang tidak akan menjadi lemah.
Iaitu aqidah terhadap Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s